Sejak 50 Tahun Salah Satu Desa di Turki Gunakan Bahasa Burung

Sejak 50 Tahun Salah Satu Desa di Turki Gunakan Bahasa Burung

Di Desa Turki, Berkomunikasi Bahasa Burung, Begini Penjelasannya-ist-

JEKTVNEWS.COM - Di era digital dan kecanggihan teknologi banyak sebagian orang melakukan komunikasi menggunakan smartphone untuk melakukan komunikasi jarak jauh, tetapi sebagian orang juga masih melakukan komunikasi secara tradisional, seperti yang di lakukan salah satu desa di JEKTVNEWS.disway.id/listtag/12460/turki">Turki.

Sekelompok penduduk di Desa Kuskoy yang terletak di pegunungan atas pantai Laut Hitam Turki, masih berkomunikasi dengan cara bersiul seperti burung. Bentuk komunikasi ini dimulai sejak 500 tahun lalu, saat zaman Kekaisaran Ottoman, yang tersebar luas di seluruh wilayah Laut Hitam.

Dilansir XinhuaNet, letak desa Kuskoy yang berada di pegunungan dan jarak antara satu rumah dengan rumah lain lumayan jauh. Karena itulah, mereka harus memiliki cara berkomunikasi yang efektif karena bila sudah malam hari tidak memungkinkan untuk mereka saling berkunjung ke rumah satu sama lain.

BACA JUGA:Buah yang Aman Pengidap Diabetes

Namun, sekitar 50 tahun yang lalu bahasa ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kuskoy yang mulai terkikis oleh perkembangan teknologi di wilayah tersebut. Adanya sistem seluler membuat warisan budaya tersebut di bawah ancaman serius.

Teknologi membuat komunikasi bahasa burung digantikan oleh pesan teks yang lebih mudah dijamah oleh penduduk desa Kuskoy. Setelah berabad-abad, bahasa yang diturunkan oleh nenek moyang itu tidak lagi digunakan.

Kepala Desa Kuskoy, Muhtar Kocek mengatakan bahwa, telepon seluler memiliki dampak tertentu pada tradisi bersiul di Desa kuskoy.

Dirinya menyebutkan 80 persen warga Kuskoy sampai saat ini masih berusaha mempertahankan budaya tersebut tetap hidup, dengan memperkenalkannya ke generasi-generasi selanjutnya.

Pada tahun 2017, bahasa burung yang digunakan oleh penduduk Desa Kuskoy telah masuk ke daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Badan Budaya PBB telah menerima bahasa burung penduduk desa Laut Hitam sebagai bagian dari warisan dunia yang terancam punah yang membutuhkan perlindungan.

"Kami sangat puas bahwa bahasa burung kami sekarang menjadi bagian dari warisan budaya dunia, itu adalah mimpi yang menjadi kenyataan karena kami pikir itu juga akan menginspirasi orang lain," kata Muhtar Kocek, dilansir dari XinhuaNet.

BACA JUGA:Tanggap Darurat Asap, Pemkot Jambi Perpanjang Masa Pembelajaran Daring

Tidak hanya itu, sejak adanya listrik, warga tak takut lagi berjalan malam hari atau berkumpul bila ada kepentingan. Remaja di Kuskoy lebih banyak yang meninggalkan desa.

Agar bahasa siulan burung ini tak punah, setiap tahun diadakan Festival Kuskoy. Festival ini acaranya adalah berkomunikasi dengan bahasa siulan burung.

"Sejak 20 tahun yang lalu kami menyelenggarakan festival pada bulan Juli di desa kami dan itu telah menjadi daya tarik wisata nyata dengan ratusan orang hadir dari bagian-bagian ini dan juga dari berbagai daerah di Turki," ujar Kocek.

Sumber: