Depati Setio Tuo: Pemimpin Adat, Pejuang Rakyat, dan Penjaga Marwah Tanah Jambi
--
JEKTVNEWS.COM,-Diperkirakan Depati Setio Tuo hidup pada pertengahan hingga akhir abad ke-19, ketika pengaruh kolonial Belanda mulai merambah ke pedalaman Jambi. Pada masa itu, sistem pemerintahan adat di Kerinci masih sangat kuat dengan struktur kepemimpinan yang terdiri dari depati, rio, ninik mamak, dan hulubalang.
Sebagai seorang depati, Setio Tuo dikenal sebagai pemimpin adat yang berwibawa dan dicintai rakyatnya. Ia memimpin wilayah adat dengan sistem pemerintahan tradisional yang berlandaskan prinsip "adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah." Dalam kepemimpinannya, ia menegakkan hukum adat secara adil, melindungi rakyat dari ketidakadilan, dan memastikan kesejahteraan bersama menjadi tujuan utama pemerintahan.
Ketika kekuasaan kolonial Belanda mulai memasuki pedalaman Jambi pada abad ke-19, mereka berupaya menguasai hasil bumi seperti kopi, kayu manis, damar, dan hasil hutan lainnya. Belanda menerapkan sistem pajak dan kerja paksa yang sangat memberatkan rakyat, sehingga menimbulkan gelombang perlawanan di berbagai wilayah, termasuk di bawah kepemimpinan Depati Setio Tuo.
Sebagai pemimpin adat, Depati Setio Tuo menolak keras segala bentuk campur tangan penjajah terhadap kehidupan masyarakat adat. Ia menyadari bahwa penjajahan bukan hanya bentuk penindasan fisik tetapi juga ancaman terhadap marwah adat dan kedaulatan rakyat. Berbagai kisah lisan yang dituturkan turun-temurun menyebutkan bahwa Depati Setio Tuo memimpin perlawanan rakyat melawan pasukan Belanda yang berusaha mendirikan pos dan menguasai jalur perdagangan di daerahnya.
Perlawanan itu tidak selalu dalam bentuk kekuatan senjata, tetapi juga melalui strategi diplomasi adat, penolakan terhadap pajak kolonial, serta menutup akses Belanda ke daerah pegunungan Kerinci. Karena kegigihan dan kecerdasan kepemimpinannya, pasukan Belanda sering kali gagal menembus wilayah kekuasaannya.
Depati Setio Tuo tidak berjuang sendirian. Dalam sistem pemerintahan adat Jambi terdapat jaringan kepemimpinan antar-depati, seperti Depati Atur Bumi, Depati Parbo, Depati Payung, dan lainnya. Mereka menjalin ikatan persaudaraan dengan semangat yang dikenal dengan istilah "Tigo Tungku Sejarangan" atau "Tiga Tungku yang Sejajar," menggambarkan persatuan antara pemimpin adat, ulama, dan rakyat.
Tidak banyak catatan tertulis yang menjelaskan bagaimana akhir kehidupan Depati Setio Tuo. Namun, dari penuturan sejarah lisan masyarakat Kerinci, ia dikenang sebagai tokoh yang wafat dengan kehormatan dan dimakamkan di salah satu daerah adat yang kini masih dijaga sebagai situs sejarah oleh masyarakat setempat.
Hingga kini, nama Depati Setio Tuo diabadikan dalam berbagai bentuk penghormatan seperti nama jalan, lembaga adat, dan kegiatan budaya. Kisah perjuangannya diajarkan secara turun-temurun sebagai teladan tentang arti keberanian, kesetiaan, dan kearifan lokal dalam mempertahankan martabat bangsa.
Warisan Depati Setio Tuo tidak hanya berupa kisah perlawanan terhadap penjajah, tetapi juga nilai-nilai kepemimpinan adat yang menekankan keadilan, kebersamaan, dan tanggung jawab terhadap rakyat. Ia menjadi simbol bahwa perjuangan masyarakat Jambi tidak hanya dilakukan dengan senjata, tetapi juga dengan keteguhan hati mempertahankan adat dan budaya sendiri.
Sumber:
