IHSG di Ujung Tanduk, Mampukah Menahan Tekanan atau Akan Terjun Lebih Dalam?

Selasa 17-06-2025,10:26 WIB
Reporter : Diana Hrp
Editor : Diana Hrp
IHSG di Ujung Tanduk, Mampukah Menahan Tekanan atau Akan Terjun Lebih Dalam?

JEKTVNEWS..COM - Pada hari ini, Selasa 17 Juni 2025, pelaku pasar saham dihadapkan pada dilema yang tak kalah menegangkan: apakah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bertahan di level support penting, atau justru harus menelan kenyataan pahit dari koreksi lanjutan yang lebih dalam?

BACA JUGA:BRI dan Rumah BUMN Cetak UMKM Siap Ekspor: Kisah Sukses Baker’s Gram

Penurunan IHSG pada penutupan perdagangan Senin (16/6) menjadi pertanda bahwa gelombang tekanan jual belum mereda. IHSG ditutup melemah sebesar 48,47 poin atau setara dengan penurunan 0,68 persen, dan kini berada di angka 7.117. Kabar ini bukan hanya menjadi alarm pagi bagi investor, tapi juga membuka diskusi serius di kalangan analis pasar modal.

Ivan Rosanova, analis dari Binaartha Sekuritas, menyampaikan pandangan teknikalnya yang menekankan betapa krusialnya level support di 7.083. Menurut Ivan, selama IHSG masih mampu bertahan di atas angka tersebut, masih ada peluang untuk mempertahankan momentum kenaikan atau bullish.

Namun, jika tekanan jual kembali menggempur dan IHSG tak mampu bertahan di atas level tersebut, maka bukan tak mungkin indeks akan menyentuh angka 6.994, sebuah level yang sudah mulai menandakan fase koreksi lebih dalam.

BACA JUGA:Jakarta Beri Hadiah Ulang Tahun ke Warga, Pemutihan Denda Pajak Kendaraan Berlaku hingga 31 Agustus 2025!

“Indikator MACD (Moving Average Convergence Divergence) menunjukkan momentum bearish yang cukup menguat,” ujar Ivan dalam pernyataan tertulis.

Artinya, dari sisi indikator teknikal, pasar saat ini sedang mengalami pelemahan sentimen positif, dan sinyal peringatan sudah mulai tampak.

Senada dengan Ivan, Herditya Wicaksana, Analis Teknikal dari MNC Sekuritas, juga memprediksi adanya potensi pelemahan lanjutan. Ia mencermati bahwa IHSG telah menembus dua indikator teknikal penting, yakni Moving Average 20 (MA20) dan Moving Average 200 (MA200). Ini bukan sinyal baik, karena menandakan bahwa tekanan jual telah menggerus fondasi teknikal yang selama ini menopang indeks.

Herditya memproyeksikan bahwa level support IHSG kini berada di angka 7.079 dan 7.009. Bila koreksi masih berlanjut, skenario terburuk menunjukkan IHSG bisa bergerak menuju rentang 6.713–7.009. Angka ini jelas berada di bawah psikologis 7.000, dan bisa memicu kepanikan bagi investor ritel yang tak siap dengan volatilitas.

BACA JUGA:PTPN IV PalmCo Raih PROPER Biru, Perkuat Komitmen Lingkungan dan Transisi Energi Hijau

Namun demikian, ia juga membuka ruang optimisme. Bila IHSG mampu bangkit dan menembus resistance di level 7.240, maka akan membuka peluang bagi pembentukan gelombang naik. Dalam skenario optimistis ini, IHSG bisa bergerak ke kisaran 7.263 hingga 7.355.

“Label hitam dalam grafik kami masih menunjukkan potensi koreksi ke area bawah, tapi jika breakout terjadi di atas 7.240, tren bisa berubah lebih positif,” jelas Herditya.

Meskipun IHSG terkoreksi, data transaksi pada perdagangan Senin menunjukkan bahwa aktivitas investor tetap tinggi. Menurut RTI Infokom, total nilai transaksi mencapai Rp14,97 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 24,62 miliar saham. Ini menjadi indikasi bahwa meskipun banyak yang menjual, pasar masih sangat aktif dan belum benar-benar sepi peminat.

BACA JUGA:Resmikan Sentra Layanan Prioritas di Cirebon, Kini BRI Miliki 43 Lokasi Layanan Premium yang tersebar di Selur

Kategori :