Belajar Berkata “Tidak”, Cara Sederhana Menjaga Energi dan Kesehatan Mental

Belajar Berkata “Tidak”, Cara Sederhana Menjaga Energi dan Kesehatan Mental

--

JEKTVNEWS.COM-Kebiasaan selalu mengiyakan permintaan orang lain kerap dianggap sebagai sikap ramah dan peduli. Namun di balik itu, banyak orang tanpa sadar terjebak dalam pola people pleaser, yakni dorongan untuk selalu membantu meski harus mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kesehatan diri sendiri. Kondisi ini perlahan dapat memicu kelelahan emosional hingga stres berkepanjangan.

Pakar pengembangan diri menyebutkan, keberanian menetapkan batasan atau setting boundaries justru menjadi salah satu bentuk perawatan diri (self-care) yang penting. Setiap kali seseorang memaksakan diri berkata “ya” pada hal yang sebenarnya tidak diinginkan, saat itu pula ia mengabaikan kebutuhan pribadinya, termasuk waktu istirahat dan ruang untuk memulihkan energi.

Menentukan batasan dinilai bermanfaat untuk mencegah burnout. Energi yang terbatas perlu difokuskan pada hal-hal prioritas, bukan habis untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Selain itu, individu yang mampu berkata “tidak” dengan tegas dan sopan cenderung lebih dihormati karena dianggap menghargai waktu serta prinsip hidupnya sendiri. Hubungan sosial pun menjadi lebih sehat karena tidak ada rasa terpaksa atau kesal yang dipendam.

Meski demikian, menolak permintaan sering kali menimbulkan rasa bersalah. Padahal, penolakan dapat disampaikan dengan cara santun. Misalnya dengan menyatakan secara jujur bahwa jadwal sedang penuh, menawarkan alternatif bantuan di waktu lain, atau meminta waktu untuk mempertimbangkan sebelum memberi jawaban. Cara-cara ini membantu seseorang terhindar dari keputusan spontan yang merugikan diri sendiri.

Penerapan batasan bisa dimulai dari berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Di lingkungan kerja, membatasi komunikasi di luar jam kantor dapat membantu menjaga keseimbangan hidup. Dalam pertemanan, seseorang tidak harus selalu hadir di setiap undangan jika membutuhkan waktu beristirahat. Begitu pula di keluarga, kebutuhan akan waktu tenang perlu dikomunikasikan secara terbuka.

Pada akhirnya, berkata “tidak” bukan berarti bersikap acuh atau egois. Justru dengan menjaga energi dan kesehatan mental, seseorang dapat hadir secara utuh dan memberikan kontribusi terbaik saat benar-benar dibutuhkan. Batasan yang jelas membuat setiap kata “ya” menjadi lebih tulus dan bermakna.

Sumber: bogor.disway.id