80 Persen Anak Usia 7–12 Tahun Pernah Berbohong, Orangtua Perlu Sikapi dengan Bijak

80 Persen Anak Usia 7–12 Tahun Pernah Berbohong, Orangtua Perlu Sikapi dengan Bijak

--

JEKTVNEWS.COM–erilaku berbohong pada anak usia sekolah dasar menjadi fenomena yang cukup umum terjadi. Berdasarkan temuan yang ada, sekitar 80 persen anak usia 7 hingga 12 tahun pernah melakukan kebohongan dalam berbagai situasi. Hal ini menunjukkan bahwa berbohong bukan semata-mata tanda buruknya karakter anak, melainkan bagian dari proses perkembangan psikologis yang perlu dipahami secara tepat oleh orangtua.

Dalam tahap tumbuh kembang, anak mulai mengenal konsep benar dan salah, termasuk memahami konsekuensi dari tindakan yang mereka lakukan. Pada usia 7 hingga 12 tahun, kemampuan berpikir anak sudah lebih kompleks dibandingkan usia sebelumnya. Mereka mulai mampu menyusun alasan, membayangkan situasi, hingga memprediksi reaksi orang lain. Kemampuan inilah yang kemudian membuat anak dapat berbohong dengan tujuan tertentu.

Beberapa faktor yang mendorong anak berbohong antara lain keinginan untuk menghindari hukuman, rasa takut dimarahi, hingga upaya untuk menjaga perasaan orang lain. Tidak sedikit pula anak yang berbohong karena ingin mendapatkan perhatian atau pengakuan. Dalam kondisi tertentu, kebohongan juga bisa muncul akibat tekanan emosional, seperti rasa cemas atau ketidaknyamanan dalam lingkungan keluarga maupun sekolah.

Para orangtua diimbau untuk tidak langsung bereaksi secara emosional ketika mengetahui anak berbohong. Sikap marah yang berlebihan justru dapat memperburuk keadaan, karena anak akan merasa tidak aman untuk berkata jujur di kemudian hari. Alih-alih memberikan label negatif, orangtua sebaiknya fokus pada perilaku yang dilakukan anak serta memberikan pemahaman mengenai dampak dari kebohongan tersebut.

Pendekatan komunikasi yang terbuka menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi ini. Orangtua disarankan untuk menciptakan suasana yang nyaman agar anak berani mengungkapkan kebenaran tanpa rasa takut. Mengajak anak berdiskusi dengan nada tenang dan penuh empati dapat membantu mereka memahami kesalahan tanpa merasa tertekan.

Selain itu, penerapan konsekuensi yang logis dan konsisten juga penting dalam mendidik anak. Konsekuensi yang diberikan sebaiknya bersifat mendidik, bukan menghukum secara berlebihan. Dengan cara ini, anak dapat belajar bertanggung jawab atas perbuatannya tanpa merasa terintimidasi. Sebaliknya, hukuman yang terlalu keras justru berpotensi membuat anak semakin sering berbohong demi menghindari sanksi.

Orangtua juga perlu menjadi contoh dalam hal kejujuran. Anak cenderung meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Oleh karena itu, sikap jujur yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari akan memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak. Hal-hal kecil seperti menepati janji atau berkata apa adanya dapat menjadi pembelajaran yang berarti bagi anak.

Tidak kalah penting, orangtua perlu memahami bahwa setiap anak memiliki latar belakang dan kondisi emosional yang berbeda. Jika kebohongan terjadi secara berulang dan mulai berdampak pada kehidupan sosial maupun akademik anak, maka perlu dilakukan penanganan lebih lanjut. Konsultasi dengan tenaga profesional seperti psikolog anak dapat menjadi langkah yang tepat untuk menggali penyebab yang lebih dalam.

Dengan pendekatan yang penuh pemahaman, kesabaran, dan komunikasi yang baik, perilaku berbohong pada anak dapat diarahkan menjadi pembelajaran berharga. Momen tersebut justru dapat dimanfaatkan untuk menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, serta kepercayaan diri sejak dini, sehingga anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang secara emosional dan sosial.

Sumber: fimela.com