Serunya Pelajar Mainkan Kulintang Kayu di Museum Siginjei

Sabtu 27-09-2025,16:17 WIB
Reporter : SHARLY/CENCEN
Editor : LILIS

JEKTVNEWS.COM,-Masih dalam rangkaian kegiatan Pameran Kenduri Swarnabhumi, UPTD Museum Siginjei Jambi menggelar workshop alat musik tradisional Kulintang Kayu dengan tema "Museum di Hatiku, Lestari Budayaku". Kegiatan ini berlangsung seru dan diikuti oleh sekitar 50 pelajar SMA se-Kota Jambi.

Workshop ini dirancang untuk memperkenalkan dan melestarikan kekayaan musik tradisional Nusantara, khususnya Kulintang Kayu, salah satu alat musik khas Jambi.
Peserta terlebih dahulu diberikan materi tentang sejarah, filosofi, hingga teknik memainkan alat musik tersebut. Kemudian, mereka diajak untuk membuat kulintang secara mandiri — mulai dari memilih jenis kayu, menyusun bentuk, hingga menyetel nada yang tepat.


Penyusun Bahan Publikasi dan Edukator UPTD Museum Siginjei Jambi Krisviorini menyebutkan, kegiatan ini ditutup dengan penampilan kolaborasi para peserta yang memainkan dan menyanyikan lagu menggunakan kulintang hasil karya mereka sendiri.

Melalui kegiatan ini, pihak museum berharap generasi muda tidak hanya mengenal kulintang sebagai warisan budaya, tetapi juga memahami proses pembuatannya, agar tradisi musik daerah dapat terus hidup dan diwariskan ke generasi berikutnya.


Turut hadir Azhar MJ, inisiator musik daerah Jambi. Ia menekankan pentingnya melestarikan alat musik kulintang yang memiliki karakteristik khas Jambi.Kulintang Jambi berbeda dari daerah lain. Instrumen ini menggunakan nada kura dan tangga nada pentatonik, sistem nada lima tangga yang telah digunakan secara turun-temurun oleh leluhur.

Dalam proses pembuatannya, jenis kayu yang digunakan antara lain kayu mahang, kayu cendangkring, dan kayu tutut, yang harus memiliki serat lurus agar bisa menghasilkan resonansi suara yang baik.

Kayu dipotong sesuai ukuran nada, lalu disetel dengan teknik manual dan disempurnakan menggunakan aplikasi penyetel nada modern, hingga sesuai dengan standar internasional.Bahan baku untuk kulintang masih banyak dijumpai di Jambi, sehingga siapa pun sebenarnya bisa membuat alat musik ini.

Azhar berharap masyarakat Jambi lebih aktif membunyikan kulintang, agar alat musik warisan leluhur ini tetap hidup. Dulu, kulintang bukan hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga mengiringi mantra dalam tradisi masyarakat zaman dahulu.


Anita dan Michelle, dua peserta workshop, mengaku sangat terinspirasi oleh kegiatan ini. Mereka merasa mendapatkan pengalaman berharga — tidak hanya belajar membuat dan menyetel kulintang, tapi juga memainkan langsung alat musik tradisional tersebut.Keduanya berharap kegiatan serupa bisa terus digelar secara rutin, agar lebih banyak anak muda mengenal dan mencintai budaya lokalnya.

Kategori :