“Saat ini produksi bibit sawit bersertifikat dari 20 produsen benih resmi yang ada mencapai 4,1 juta stut. Untuk kecambah, produksinya menyentuh 241 juta. Dari sisi jumlah sudah memenuhi estimasi 2025 di angka 151 juta. Namun tantangannya ada pada keunggulan varietas sehingga didapatkan bibit dengan produktivitas yang mumpuni,” terangnya.
Di PalmCo sendiri, melalui unit usaha PPKS yang berada dibawah PT RPN yang merupakan anak perusahaannya, merupakan pioneer serta produsen bibit sawit terbesar di Indonesia saat ini.
“Dari total 4,1 juta stut bibit sawit tersebut, 77 persen atau 3,2 jutanya diproduksi PPKS. Harapannya kita mampu terus memenuhi kebutuhan bibit unggul baik untuk areal replanting maupun areal baru yang diproyeksikan meningkat dari tahun ke tahun,” tambah Jatmiko lagi.
Selanjutnya penguatan berikutnya adalah di peremajaan sawit rakyat. Disampaikannya, PSR menjadi solusi utama atas rendahnya produktivitas CPO petani yang berada dikisaran 2-3 ton CPO/Ha/Tahun.
“Sejak digulirkan di 2017 lalu, realisasi PSR Indonesia tertinggi hanya di 51% setahun dengan target 180 ribu Ha. Itu di 2020 lalu. Bahkan untuk 2024, targetnya turun ke 120 ribu Ha dengan realisasi hanya 18 ribu Ha,”
Oleh karenanya, menurut Jatmiko setidaknya diperlukan beberapa hal yang akan berdampak pada percepatan PSR yang diharapkan.
“Relaksasi syarat, penyelesaian sawit dalam kawasan, dan jaminan penyaluran bibit unggul. Tiga hal ini sangat penting untuk mengakselerasi PSR kita,” tukasnya.
Sementara itu di PTPN IV PalmCo sendiri, tercatat hingga semester satu tahun ini, telah berhasil membantu penerbitan rekomendasi teknis yang dibutuhkan petani dalam PSR mencapai 11 ribu Ha.