Mengubah Krisis Energi Menjadi Energi Kreativitas

Mengubah Krisis Energi Menjadi Energi Kreativitas

--

JEKTVNEWS.COM–konflik di Timur Tengah terutama yang melibatkan Iran vs Israel dan Amerika Serikat bukan sekadar urusan geopolitik yang jauh dari kehidupan kita. Ketegangan itu berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia, khususnya jika Selat Hormuz ikut terdampak atau bahkan ditutup.

Bagi Indonesia, ancaman itu bukan hal kecil. Selama ini Indonesia masih bergantung pada impor sekitar satu juta barel minyak per hari. Artinya, setiap gejolak global dengan cepat menjalar ke dalam negeri.

Ketika harga minyak dunia berfluktuasi, ekonomi domestik pun ikut goyah. Ketahanan energi menjadi rapuh. Jika konflik berlarut-larut, cadangan BBM nasional berisiko menipis. 

Dalam situasi seperti itu, yang muncul bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga reaksi sosial. Ketakutan akan kelangkaan memicu panic buying. Kecemasan menyebar. Publik merasa tidak aman.

Dari Geopolitik Ke Dapur Rumah Tangga

Dampak krisis energi global pada akhirnya selalu bermuara pada kehidupan sehari-hari. Harga BBM dan LPG merangkak naik, distribusi tersendat, dan beban rumah tangga makin berat. 

Bagi pelaku usaha kecil, kondisi tersebut bisa menjadi pukulan telak. Bagi masyarakat luas, itu adalah ancaman nyata terhadap stabilitas hidup.

Namun, krisis energi kerap dipahami secara sempit sebagai sekadar masalah ketersediaan. Seolah-olah persoalannya hanya pada minyak yang menipis atau produksi yang tidak mencukupi. 

Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks. Krisis energi juga menyangkut bagaimana masyarakat tetap merasa aman, memperoleh informasi yang jelas, dan memiliki alternatif untuk bertahan.

Di titik itulah krisis energi berubah menjadi krisis kepercayaan. Ketika informasi tidak utuh dan solusi tidak terlihat, kecemasan menjadi tak terhindarkan.

Paradoks Indonesia: Kaya Energi, Miskin Kemandirian

Ironi terbesar justru terletak pada kondisi Indonesia sendiri. Negeri ini tidak kekurangan sumber daya. Matahari bersinar hampir sepanjang tahun, air melimpah, angin tersedia di berbagai wilayah. Semua itu adalah potensi energi terbarukan yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Bahkan, potensi energi laut Indonesia sangat besar dan mulai diuji melalui berbagai proyek percontohan. Misalnya, pengembangan pembangkit listrik tenaga arus laut di Selat Larantuka, Nusa Tenggara Timur, yang dikenal memiliki arus laut kuat dan stabil. 

Selain itu, terdapat inisiatif pemanfaatan energi gelombang laut di pesisir selatan Jawa serta rencana pengembangan teknologi energi pasang surut di wilayah timur Indonesia. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa laut Indonesia bukan hanya sumber pangan, melainkan juga sumber energi masa depan.

Di sisi lain, Indonesia juga memiliki sumber daya manusia yang besar. Banyak anak muda melek teknologi, kreatif, dan mampu berinovasi. Namun, mengapa ketergantungan pada energi impor masih begitu tinggi?

Jawabannya sederhana, tetapi sering diabaikan: ada jurang antara potensi dan pemanfaatan. Kekayaan sumber daya tidak otomatis menjadi kekuatan jika tidak dikelola dengan baik. Di sanalah persoalan bukan lagi pada apa yang dimiliki, melainkan pada bagaimana memanfaatkannya.

Kreativitas Masyarakat Yang Terabaikan

Sebenarnya, masyarakat tidak kekurangan ide. Di berbagai daerah, kita bisa menemukan upaya-upaya sederhana untuk menghemat energi atau menciptakan alternatif. Mulai penggunaan biogas skala rumah tangga hingga pemanfaatan panel surya sederhana.

Sayang, inovasi seperti itu sering berhenti di lingkup kecil. Tidak berkembang, tidak direplikasi, dan tidak mendapat perhatian luas. Bukan karena masyarakat tidak mampu, melainkan karena ruang untuk berkembang masih terbatas.

Budaya yang terlalu top-down membuat masyarakat lebih sering ditempatkan sebagai penerima kebijakan, bukan pelaku perubahan. Kreativitas yang seharusnya menjadi kekuatan justru terpinggirkan. Padahal, solusi dari krisis sering kali lahir dari kebutuhan paling dekat, yakni dari masyarakat itu sendiri.

Peran Komunikasi: Dari Kepanikan Ke Inovasi

Fenomena panic buying yang muncul di tengah ancaman krisis energi adalah contoh nyata bagaimana komunikasi belum berjalan efektif. Informasi yang tidak jelas atau terlambat justru memperbesar kepanikan.

Di sinilah pentingnya komunikasi yang memberdayakan. Pemerintah dan media tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi juga harus mampu membangun kepercayaan dan mengarahkan masyarakat pada solusi. 

Komunikasi seharusnya tidak berhenti pada imbauan untuk berhemat, tetapi juga berkembang menjadi ajakan untuk berinovasi.

Ada peribahasa lama yang relevan: tidak ada rotan, akar pun jadi. Dalam konteks hari ini, ketika BBM makin terbatas, energi alternatif seharusnya menjadi pilihan nyata. Namun, perubahan itu tidak bisa dilakukan secara individual. Dibutuhkan gerakan kolektif yang didukung narasi yang kuat.

Masyarakat perlu diyakinkan bahwa mereka bukan sekadar korban krisis, meainkan juga bagian dari solusi.

Krisis Energi Adalah Ujian, Bukan Akhir

Krisis energi memang tidak bisa dihindari, terutama di tengah dinamika global yang tidak menentu. Namun, krisis tidak selalu berarti kemunduran. Ia bisa menjadi momentum untuk berbenah.

Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Yang masih perlu diperkuat adalah keberanian untuk memberikan ruang pada kreativitas dan inovasi masyarakat. 

Pemerintah, media, akademisi, dan komunitas perlu berjalan bersama, membuka ruang partisipasi, dan memberikan apresiasi bagi setiap upaya kecil yang membawa perubahan.

Sebab, pada akhirnya, energi fosil mungkin makin terbatas. Namun, kreativitas masyarakat seharusnya tidak pernah ikut dibatasi. 

Sumber: hariandisway.id